Rabu, 24 Agustus 2011

Penunggang Kuda Negeri Malam, Antologi Puisi Ahda Imran

Penunggang Kuda Negeri Malam (Kumpulan Puisi)

Judul               : Penunggang Kuda Negeri Malam
Pengarang       : Ahda Imran
Kata pembuka : Miranda Risang Ayu
Kata penutup  : I Bambang Sugiharto
Tebal               : 148 halaman
Ukuran                        : 13 x 19,5 cm

Harga             : Rp. 30.000


Buku kumpulan puisi tunggal perdana Ahda Imran ini berisi 70 sajak terpilih periode 1995-2008 atau sekitar 13 tahun proses kepenyairannya. Selain menyair, Ahda dikenal luas sebagai penulis tetap rubrik seni budaya (”Khazanah”) di Harian Pikiran Rakyat, Bandung. Liputannya tentang seni pertunjukan, pameran lukisan dan fenomena kebudayaan yang muncul saban pekan, meninggalkan jejak tersendiri dalam penciptaan. Ada persentuhannya yang khas dengan realitas, dan diterjemahkan kembali lewat pencandraan interpretasi. Jadilah persoalan sosial di sekitar menyusup halus dan menghanyutkan. Ibarat penunggang kuda di negeri yang selalu malam (gelap), Ahda bersaksi dan mendedahkan kesaksiannya itu kepada kita.

Bambang Sugiharto mengakui, membaca puisi Ahda Imran yang berjudul Penunggang kuda Negeri Malam adalah membaca realitas sebagai suasana, suasana kecemasan yang panjang dan mencekam: menatap wajah dengan “seekor anjing bermata satu  mengintai  dari bayang di genang air tenang” (puisi “Penghujung Tahun “). Dalam melukiskan kecemasan itu,  puisi-puisi Ahda adalah imaji-imaji yang tepat, padat dan kuat. “Sesuatu sedang terjadi”, katanya, “Bayi-bayi lahir dengan lidah bersisik, dan ibu mereka adalah burung-burung gagak”.

Sementara Miranda Risang Ayu, seorang ibu rumah tangga di Bandung, yang didaulat memberi semacam kata pengantar menyatakan bahwa ia menemukan proses, aneka peristiwa dan kesunyian dalam buku ini. Semua itu memberi kekuatan untuk mencerna realitas di sekitarnya.

Sampai saat ini, kita masih bisa menangkap kehalusan bahasa, ketenangan pikiran, dan tajamnya imajinasi seorang Ahda dalam setiap puisi yang ditulisnya. Ia secara kuantiatas mungkin tak memiliki banyak puisi, tapi secara kuantitas, ia adalah penyair yang konsisten dengan puisi-puisinya. Kita menemukan kesunyian yang pekat, personal yang hibrid dan segala keruwetan yang tertanam di kepala sang pengarang.

Buku ini kian menarik lantaran dihiasi drawing sejumlah pelukis tenar kota Bandung yang khusus dibuat untuk merespon puisi-puisi Ahda. Mereka adalah Tisna Sanjaya, Isa Perkasa dan Diyanto. Sementara desain cover dikerjakan oleh Sunaryo. Buku puisi Penunggang Kuda Negeri Malam karya Ahda Imran ini bisa anda pesan kepada kami, sekarang!**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger Widgets