Minggu, 28 Agustus 2011

Jurnal Cerpen Indonesia edisi 07: Matinya Seorang Guru Mengaji



Jurnal Cerpen Indonesia Edisi 7:  Matinya Seorang Guru Mengaji
Pengarang          :Gunawan Maryanto, Raudal Tanjung Banua, Dalih Sembiring, Dwicipta, Riki Dhamparan Putra, Gde Aryantha Soethama, Wa Ode Wulan Ratna, Sandy Firli, dan Katrin bandel
Tebal               : 252 halaman
Ukuran               : 140 x 210 cm
Penerbit           : Akar Indonesia
Tahun terbit     : 2007
ISBN               : 1978-3175

Harga              : 35.000


Dalam Jurnal Cerpen Indonesia edisi 07: Matinya Seorang Guru Mengaji ini terdapat 8 cerpen yang ditulis cerpenis Indonesia dengan berbagai latar usia. Raudal Tanjung Banua menulis cerpen Matinya seorang Guru Mengaji yang menjadi judul edisi ini, disusul oleh Dalih Sembiring dengan cerpennya Ulang tahun Priya, Dwicipta dengan judul Pinto Si Penjual Susu, Riki Dhamparan Putra menulis cerpen Tuhan Datang. Selanjutnya Gunawan Maryanto menulis cerpen yang sangat panjang, 60 halaman lebih, berjudul Akupa, Kura-kura dari Liman. Selanjutnya ada Gde Aryantha Soethama dengan judul cerpennya Joged Timuhun, disusul oleh Wa Ode Wulan Ratna dengan Perca dan ditutup oleh Sandi Firly dengan sebuah cerpen Kematian Pagi. Selanjutnya ada Katrin Bandel yang menulis ulasn mengenai Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia.

Beragam tema yang disajikan dalam JCI 07 ini. Cerpen-cerpen dengan bermacam tema dan karakter ini menjadikannya layak dikoleksi. Beberapa tema lokal menyeruak di dalamnya, tanpa harus merunut momen kapan Jurnal Cerpen Indonesia edisi 07: Matinya Seorang Guru Mengaji ini diterbitkan. Cerpen-cerpennya bukanlah cerpen-cerpen yang mengikuti pola waktu, sebagaimana mainstream cerpen-cerpen media massa yang kadang kala menjadi bagian dari repostasi dan catatan momen tertentu. Cerpen-cerpen yang terus bisa dibaca dalam momen apa pun dan bahasan para peneliti sastra yang disajikan dengan apik.

Matinya Seorang Guru Mengaji yang terdapat dalam JCI 07 diambil dari cerpen Raudal Tanjung Banua. Yang menarik adalah menyimak cerpen Gunawan Maryanto yang panjangnya 60 halaman lebih, yang tetap berdiri sebagai sebuah cerpen. Sementara Riki Dhamparan putra yang lebih dikenal sebagai seorang penyair ternyata tetaplah seorang yang piawai menulis prosa. Anda bisa memesan Jurnal Cerpen Indonesia edisi 07: Matinya Seorang Guru Mengaji selama persediaan masih ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger Widgets