Kamis, 25 Agustus 2011

Jurnal cerpen Indonesia Edisi # 09: Ratusan Mata di Mana-mana

Jurnal cerpen Indonesia Edisi # 09: Ratusan Mata di Mana-mana 

Pengarang       : Frans Nadjira, Martin Aleida, Yanusa Nugroho, Zulkarnaen Ishak,
  Kiswondo, Shiho Sawai, dll.
Tebal               : XVIII + 182 halaman
Ukuran           : 14 x 21 cm

Harga            : Rp. 38.000

 Jurnal Cerpen Indonesia (JCI) terbit sejak tahun 2002, bersamaan dengan berlangsungnya Kongres Cerpen Indonesia. JCI digawangi oleh Ahmad Tohari, Bakdi Soemanto, Maman S. Mahayana, Joni Ariadinata dan Raudal Tanjung Banua.

Jurnal Cerpen Indonesia edisi # 09 boleh dikatakan edisi “ideal” sebab memuat cerita pendek dan esai relatif seimbang. Ada 7 cerpen dengan berbagai gaya dan tema. Ada yang kontemplatif, liris, dan ada pula yang berbentuk memoar. Para penulis cerpen edisi ini adalah Frans Nadjira, Martin Aleida, Mezra E. Pellondou, Gde Agung Lontar, Fahrudin Nasrulloh, Hery Sudiono, Yanusa Nugroho dan Zulkarnaen Ishak. Ratusan Mata di Mana-mana diambil dari judul cerpen Martin Aleida yang seperti sebuah memoar. Cerpen ini memuat sejumlah nama dan seluruhnya tentang ingatannya ketika bekerja di Majalah Tempo.

Jurnal cerpen Indonesia Edisi # 09 dilengkapi pula dengan tiga esei yang bertolak dari akar persoalan yang relatif sama, yakni jejak konflik, seperti Harris Effendi Thahar yang menulis konflik PRRI dalam cerpen-cerpen Soewardi Idris; Kiswondo meneliti konflik 1965 dalam empat cerpen Indonesia dan Shiho Sawai yang menulis konflik pasca-kolonial dalam cerpen-cerpen perempuan buruh migran di Hongkong.**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger Widgets