Sabtu, 07 Juli 2012

Bulan Celurit Api, Kumcer Benny Arnas


Judul           : Bulan Celurit Api
Penulis        : Benny Arnas
Penyunting  : Kurnia Effendi
Penerbit      : Koekoesan
Edisi            : Cetakan I, Oktober 2010
Tebal          : 130 halaman
Kategori     : Kumpulan Cerpen

Membaca sebuah buku tak lengkap rasanya bila tak mengenal sang penulis (pengarang) dalam proses kreatifnya menghasilkan sebuah karya. ini juga yang ditangkap Benny Arnas, cerpenis asal Lubuklinggau yang ratusan cerpennya sudah tersebar di berbagai media dalam kurun waktu dua tahun. Dalam buku ini, Benny memberikan 10 halaman pertama sebagai catatan kecil yang menceritakan sebab musabab ketertarikannya terhadap cerpen dan kisah dibalik lahirnya sebuah cerita.

Ketika membuka lembaran berikutnya, kita akan mendapati 13 cerpen terbaik yang dipilih langsung oleh Benny. terdiri dari 11 cerpen yang telah terbit di sejumlah media cetak, 1 cerpen meraih Terbaik III Piala Balai Bahasa 2009 dan 1 cerpen anyar yang belum dipublikasikan. Pada awal masing-masing cerita ditampilkan juga ilustrasi yang melengkapi cerita.

Benny yang konsisten mengangkat kearifan lokal Lubuklinggau dalam tiap cerpennya ini, menyuguhkan cerita dengan bahasa ungkap yang segar, tak biasa tapi nyambung, agak aneh tapi indah, mencolok tapi tak norak. Hasilnya cerpen-cerpen yang mantap.

Cerita dibuka dengan cerpen Bulan Celurit Api, menceritakan Mak Muna, wanita tua yang--bisa membaca firasat--terjebak dalam perubahan sikap dan tingkah laku anak-cucunya, yang menjadi korban kemajuan zaman. Mereka sepanjang hari hanya terbahak-bahak hingga berjoget didepan tivi, yang membuat repot adalah keengganan mereka bila diajak untuk sembahyang.

Mak Muna makin gusar ketika anak-cucunya bersekutu berniat untuk menjual rumah Limas pusaka, supaya mereka dapat membangun rumah beton. Namun ditolak Mak Muna. Alhasil, anak-cucunya pergi pindah, tinggallah Mira cucunya yang gagu. Suatu malam, Mak Muna mendapat kabar bahwa Rusli (anaknya) dan Iyut (tetangganya) diarak keliling kampung karena tertangkap basah sedang 'bekacuk' di kebun ubi Cik Madur--yang tengah menggelar hajatan. Saat itu juga, ia melihat rumah pusakanya membara dilalap api. Semua itu mirip firasatnya:
'Bulan celurit api menantang pucuk limas, namun malam ini, pucuk limas itu yang menantang dengan bara menyala seolah ingin membakar bulan sabit itu'

Selanjutnya beralih ke cerpen dengan judul yang sangat panjang:
Tentang Perempuan Tua dari Kampung Batu yang Mengambil Uang Getah Para dengan Mengendarai Kereta Unta Sejauh Puluhan Kilometer ke Pasar Kecamatan. Cerita yang disembahkan Benny untuk neknonya ini menghentak di hati. Sebuah cerita perjuangan, kesabaran, keikhlasan dan kesungguhan hati dalam memegang prinsip (agama), bahwa uang orang lain yang bukan hak kita tak boleh sedikitpun dimakan.

Lalu cerpen Malam Rajam yang juga menjadi cerita favorit pilihan saya, tampak sebagai cerita yang digarap secara sempurna tanpa cela sedikitpun dan ending yang mencengangkan. Dua jempol bagi Benny untuk Malam Rajam.

Masih banyak cerita lain, Anak Ibu yang penuh dengan nasihat. Percakapan Pengantin dan Tukang Cerita yang diakhir menyisakan teka-teki keberadaan tokohnya. Kemudian Perkawinan tanpa Kelamin yang terlihat sangat liar.

Dan beberapa judul lain mengenai percintaan yang tidak biasa, bahkan terkesan terlarang dan berakhir tragis.

Cerpen Bujang Kurap dan Kembang Tanjung Kelopak Tujuh adalah dua cerita yang diangkat dari mitos. Disini terlihat Benny ingin meluruskan kesalahpahaman yang masih berkembang disebagian masyarakat Linggau terhadap dua cerita rakyat itu. Sayangnya di kedua cerpen ini, Benny terlalu banyak menyisipkan catatan kai, yang pada awalnya mungkin bermaksud mempertegas penceritaan. Namun rasanya jadi berlebihan dan membuat agak bosan.

Tapi hal itu bukanlah penghalang untuk anda memiliki dan membaca buku ini. Maka Kumcer Bulan Celurit Api, saya anjurkan menjadi salah satu buku sastra yang harus anda baca.

Wendy Fermana
Penyuka Sastra, Palembang.

(http://www.facebook.com/note.php?note_id=161177103930544)
Via

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger Widgets